Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Memalukan



Ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Istibsyaroh dikabarkan bertemu dengan Presiden Israel Reuven Rivlin. MUI juga mendengar kabar itu dan berharap itu adalah kabar hoax.

"Teman-teman di MUI menyesalkan kalau itu benar. Tapi sekarang sedang musim hoax, mudah-mudahan saya berharap itu hoax, karena kapasitas Ibu Istibsyaroh adalah Ketua MUI," kata Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat HM Baharun saat dihubungi detikcom, Jumat (20/1/2017).

Baharun tak mendengar kabar itu lewat Istibsyaroh langsung, melainkan dari media sosial. Bila benar Istibsyaroh berkunjung ke Israel menemui Presiden Rivlin, tentu itu langkah yang tidak dapat dibenarkan oleh MUI.

"Kalau memang benar, sebetulnya ini tidak dapat dibenarkan. Sebagai salah satu pengurus MUI, dia tidak dibenarkan bertemu pejabat-pejabat negara yang menzalimi rakyat Palestina itu," kata Baharun.

Sumber : https://m.detik.com/news/berita/3400858/pejabatnya-temui-presiden-israel-mui-tak-ada-hubungan-dengan-kami

Sumber: https://arrahmahnews.com/2017/01/20/kunjungan-anggota-mui-ke-israel-lukai-umat-islam-indonesia/

Sumber: http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/01/19/ok0leo318-mui-klarifikasi-dan-kutuk-keras-kehadiran-anggotanya-di-israel

Sumber akun resmi Presiden Israel Reuven Rivlin:https://mobile.twitter.com/PresidentRuvi/status/821728062366765065

-Yusuf Muhammad-

RIZIEQ, MUNARMAN, DAN NOVEL BERURUSAN DENGAN HUKUM : SKAKMAT UNTUK FPI 9


Ada sebuah istilah “Kalau mau tangkap ular, pegang kepalanya”. Karena kalau pegang ekor atau badannya, rahangnya akan reflek menggigit tangan.
Itulah yang sedang dihadapi sebuah ormas besar bernama Front Pembela Islam (FPI). Tiga orang petingginya sedang berurusan dengan hukum. Penyebabnya sama semua. Gara-gara mulut yang tidak diajarkan sopan-santun. Padahal, mereka selalu menyerang Ahok dari titik ini. Ahok mulutnya kayak comberan lah. Kini, mereka pun merasakan akibat dari tidak bisanya menjaga mulut.
Rizieq mendapat sebelas aduan dari lima kasus yang disebabkan mulutnya sembarangan menghina. Pertama, ia menghina adat Sunda. Ia mengganti “sampurasun” menjadi “campuracun”. Rizieq mengira, karena Jawa Barat adalah basis muslim yang agak-agak garis keras, lalu ia seenaknya menghina budaya Sunda. Kenyataannya, tak setiap muslim di Jawa Barat setuju dengan Rizieq. Malahan, Aher, Gubernur Jabar, telah menandatangani petisi pembubaran FPI.
Kedua, Rizieq telah menghina Yesus Kristus. Umat Kristen sontak bereaksi melaporkan Rizieq. Dalam ceramahnya Rizieq mengatakan, “Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa?” Sepertinya, Rizieq beranggapan bahwa yang berhak hidup di negeri ini cuma Islam. Malah Islam versi dirinya. Agama lain tak berhak. Itulah mengapa ia seenak jidat mengeluarkan kalimat yang menghujat agama lain. Padahal, Quran melarang menghujat kepercayaan agama lain.
Ketiga, Rizieq menghina Pancasila. Ia mengatakan, “Pancasila Soekarno ketuhanan ada di pantat, sedangkan Pancasila Piagam Jakarta ketuhanan ada di kepala.” Rizieq memang gak tahu sejarah. Orang yang buta sejarah jadinya gini. Asal bunyi. Ia tidak tahu bahwa bangsa kita bisa merdeka karena Pancasila yang mampu menyatukan seluruh anak bangsa. Meski berbeda suku, ras, agama, bahasa, warna kulit, rambut dan lain sebagainya, Pancasila lah yang telah menyatukan kita. Menghina Pancasila sama dengan menghina perjuangan meraih kemerdekaan.
Keempat, Rizieq telah membuat propaganda imaginer tentang adanya simbol “palu arit” di uang kertas rupiah terbaru. Ia menuduh pemerintah telah disusupi oleh antek-antek PKI. Dalam banyak ceramahnya, isu PKI ini selalu didengungkan. Sampai-sampai uang pun jadi korbannya. Tapi, kalau Rizieq dikasih gepokan yang berwarna merah atau biru, saya yakin tidak menolak, meski ada “palu arit”nya.
Kelima, Rizieq telah menghina Kapolda Metro Jaya. Ia menyebut Kapolda sebagai “Jenderal otak hansip”. Ini sungguh memalukan. Mengaku seorang Habib (keturunan Rasul yang dicintai) tapi mulut seperti TPA Bantar Gebang. Yang keluar dari mulutnya, ada saja hinaan, hujatan dan cacian. Padahal, Quran menyuruh untuk berkata “qaulan ma’rufa” (perkataan yang baik).
Nasib Munarman juga seperti Rizieq. Ia dilaporkan oleh tokoh adat, pecalang dan umat muslim Bali. Ia dinilai telah menyebarkan fitnah yang keji dengan melecehkan pihak keamanan adat Bali yang dikenal dengan “pecalang”. Begini kata-kata Munarman yang dianggap telah memfitnah para pecalang di Bali, “Kompas tidak pernah mengkritik pecalang-pecalang di Bali yang kadang-kadang melempari rumah penduduk, melarang orang shalat jumat, enggak pernah ada kritik dari kompas, bertahun-tahun itu sudah kita saksikan.”
Ini merupakan fitnah tanpa dasar. Memangnya Munarman tahu dari mana pecalang-pecalang di Bali suka lemparin rumah penduduk (muslim)? Apakah cabang FPI ada di Bali? Malahan, Ketua GP Anshor Kabupaten Badung Imam Bukhori langsung membantah pernyataan Munarman tentang pecalang. Ia berkata, selama ini umat beragama di Bali saling menghormati dan membantu pada setiap acara keagamaan.
Yang terakhir adalah Novel Bamukmin. Novel sebenarnya, kasusnya lebih ringan dari Rizieq dan Munarman. Ia tidak menghina, tapi memberikan saksi palsu dalam sidang keempat kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Novel yang mendadak terkenal dengan “Fitsa Hats”nya, dilaporkan ke kepolisian atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan memberikan keterangan palsu.
Novel mengatakan bahwa Ahok telah membunuh dua anak buahnya. Lalu ia mengatakan bahwa Ahok telah merekayasa kasus tersebut hingga Novel yang masuk penjara. Seharusnya, apa yang telah menjadi keputusan pengadilan, tidak usah lagi dikomentari. Ini namanya keterlaluan. Ini namanya tidak menghargai lembaga hukum. Kalau tidak percaya pengadilan, ya ngapain juga bersaksi.
Kini. Tiga tokoh sentral FPI tengah berurusan dengan hukum. FPI akan dilelahkan dengan serangkaian upaya pembelaan. Rizieq pun mulai mengemis bantuan ke DPR agar kasusnya diselesaikan secara kekeluargaan. Sayangnya, pihak kepolisian akan meneruskan proses hukum Rizieq.
Kini, Rizieq jadi melunak. Sepertinya ia tahu bahwa posisinya sekarang ini lemah. Malahan, MUI yang merupakan mitra kerjanya, sehingga acara aksi bela islam sukses besar, sepertinya hendak cuci tangan. Mereka yang numpang beken dari aksi bela islam pun tak kunjung bersuara membela Rizieq.
Kini, Rizieq seperti sebatang kara. Yang harus menghadapi sebelas aduan tersebut dengan ikhlas dan lapang dada. Ia pun, kini, tak ragu-ragu mengemis ampunan yang dalam bahasa kerennya ia sebut sebagai dialog. Padahal, dalam kasus Ahok, mana mau Rizieq dialog.
Kini, FPI bagai tubuh tanpa kepala. Ia seperti “kecoa” yang mampu hidup berhari-hari, tapi tak tahu harus kemana. FPI sedang menghadapi detik-detik akhir kehidupannya. Menteri, ratu, dan rajanya tengah terancam. FPI berpotensi besar di-“skakmat”. Padahal, bidak-bidaknya masih banyak. Tapi, apalah artinya bidak. Sepuluh bidak pun takkan mampu melawan pengorbanan si kudah putih (Ahok).
Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah.
-MUHAMMAD NURDIN- Handoyo Handoyo

ini dia MENGAPA ANIES BASWEDAN DIPECAT ???


Resufle menteri era Jokowi adalah hal yang wajar. Tapi ketika Anies dicopot, itu sangat mengagetkan publik. Termasuk saya tidak percaya tindakan Jokowi kali ini. Saya sempat berpikir Jokowi kali ini blunder.
Tapi kontroversi mengapa Jokowi memecat Anies Baswedan yang baik dan pintar dari Menteri Pendidikan, akhirnya mulai terjawab.

• SRI MULYANI: "ANGGARAN TUNJANGAN PROFESI GURU KELEBIHAN Rp 23,3 TRILIUN"
http://bisniskeuangan.kompas.com/…/sri.mulyani.anggaran.tun…
Sri Mulyani lalu memangkas anggaran tunjangan profesi guru yang fiktif ini. Mencengangkan... Bagaimana mungkin Menteri Pendidikan tidak tau ??? Kemana inspektoratnya & BPK ???Mengapa menkeu yang mengungkap ini ???
Saya yakin Anies bersih, tidak terlibat dalam rencana pembobolan uang negara super jumbo ini. Mungkin juga ini bukan pertama terjadi dan digagalkan. Tapi disinilah nampak letak ketidakmampuan Anies membenahi birokrasi di kementiannya yang KORUP.
• JOKOWI: "DARI 18 JUTA RUANG KELAS SEKOLAH HANYA 466 RIBU YANG KONDISINYA BAIK"
http://m.detik.com/…/jokowi-dari-18-juta-ruang-kelas-sekola…
CATAT ... Tidak sampai 1/2 juta dari 18juta Kelas Sekolah di Indonesia yang Kondisinya Baik !!!
Bukankah anggaran pembangunan fisik sekolah adalah kewenangan pemda kabupaten/kota untuk SD dan SMP, pemprov untuk SMA dan SMK. Ya benar, tapi selama berpikir parsial seperti ini, lalu apa fungsi kementerian ???
Bagaimana kementerian pendidikan mampu menjalankan programnya jika pemerintah daerah suka-suka ??? Jika hanya memberikan DAK Dana Alokasi Khusus pada daerah tanpa syarat, arah dan kontrol, maka anggaran dari pusat akan dihabiskan daerah tanpa hasil maksimal.
Banyak daerah yang asal menghabiskan anggaran dari pusat. Membangun sarana fisik di perkotaan saja, sementara sekolah di pelosok sampai ambruk tidak dapat perhatian. Jika pembangunan fisik sekolah di pelosok, banyak yang asal jadi, istilahnya "bangunan 3 bulan rusak". Bahkan kadang ada pembangunan sekolah fiktif.
Menteri yang hebat punya strategi yang mampu menggunakan kewenangannya yang "memaksakan" dan "harus" koordinasi program terobosan yang baik dari kementerian ke daerah.
• "BANYAK ANAK TIDAK SEKOLAH MENDAPAT KIP Kartu Indonesia Pintar"
http://nasional.kompas.com/…/mendikbud.banyak.anak.tak.seko…
Dimana keadilan dan apa output pendidikan kita jika anak tidak sekolah banyak dapat KIP tapi anak sekolah justru banyak tidak memperoleh haknya. Mental apa yang bisa direvolusi jika dunia pendidikan saja berkeliaran maling-maling ???
Sulit akal sehat saya memikirkan bagaimana seorang menteri yang pintar era Jokowi selama 2 tahun bisa KEBOBOLAN oleh jaringan satuan kerja dibawah kewenangannya yang korup...???
Tidak ada perubahan berarti di bidang pendidikan selama Anies menjadi menteri dengan pemerintahan lama. Anggaran yang besar tidak berasa beda 'gregetnya'. Sangat tidak memenuhi standar tinggi Jokowi.
Dalam hal anggaran bagi Presiden Jokowi adalah hal sensitif. Anggaran harus ada pertanggungjawaban dan hasil yang terukur. Bukannya memelihara birokrasi yang korup.
Siapapun yang jadi menteri gelombang pertama Presiden Jokowi dalam pikirannya harus berazas "praduga korupsi". Birokrasi warisan SBY harus diduga korup sampai mereka bisa buktikan tidak korup.
Apapun program warisan maupun program baru harus diawasi ketat. Inspektorat harus dari awal disterilkan. Harus ada revolusi birokrasi secara sistemik. Tidak cukup hanya pintar berwacana normatif.
Coba bandingkan betapa luar biasanya program dan kinerja Susi Pudjiastuti yang cuma berijazah SMP atau Khofifah Indar Parawansa. Atau Kementerian PU dan Perhubungan yang membangun besar-besaran dengan kualitas kerja lebih baik dibanding era pemerintahan SBY.
Anies menjadi Menteri Pendidikan, kebanyakan wacana tapi masih belum ada gebrakan pembersihan internal birokrasi yang berarti. Pejabat di kementerian ini menggunakan anggaran yang tidak berorientasi hasil tapi hanya ngutak-atik habiskan anggaran.
Dalam hal memimpin birokrasi Anies sebagai menteri pendidikan GAGAL menggebrak kebobrokan warisan yang masih korup dan program asal ngabisin anggaran tanpa orientasi hasil. Jumlah kelas yang layak sangat rendah dan tunjangan guru fiktif ini adalah parameter kegagalan Anies dalam membenahi birokrasi.
"ANIES BASWEDAN ORANG BAIK, BERSIH & PINTAR, TAPI TIDAK MAMPU MEMBERSIHKAN BIROKRASI WARISAN PEMERINTAHAN LAMA YANG BOBROK. TIDAK MAMPU MEMENUHI STANDAR JOKOWI YANG TOTAL FIGHTER"
Anies akan sangat brilian dalam dunia akademik, tapi akan kedodoran jika harus memimpin birokrasi yang masih bobrok. Apalagi di DKI Jakarta, sangat berat bagi Anies membenahi birokrasi maupun bertarung dengan DPRD seperti Ahok.
Sangat mengerikan jika DKI dipimpin gubernur yang tidak setangguh Ahok, birokrasi kembali korup, DPRD begal anggaran kembali merajalela...
Bahkan Anies yang cendikiawan santun ini di tim pemenangannya saja tidak mampu mengendalikan tukang fitnah yang merupakan lawannya saat Pilpres 2014 lalu.
Mari Berpikir Cerdas dengan Akal Sehat.

GILIRAN FPI DI PRETELI


Situasai saat demo 411 lalu memang situasi yang sangat berbahaya..
Bukan jumlah massanya yang mengkhawatirkan, tetapi banyak elemen yang bermain memanfaatkan keadaan dan berkepentingan untuk membuat demo itu chaos. Dan kita bisa merasakan betapa tegangnya situasi pada waktu itu..
Alhamdulillah, kinerja aparat keamanan sangat teruji disini. Kita patut bangga sudah melewati situasi genting dengan selamat. Meski secara waktu, energi dan materi benar2 terkuras. Ratusan miliar rupiah terbuang sia-sia, baik dari sisi pendana demo maupun pemerintah yang ingin supaya situasi kembali aman.
Dan dari pidato Jokowi menanggapi demo 411, ia tampak sangat geram..
Sesudah demo 411, aparat bergerak cepat. Gerakan pecah ombak dimulai. Satu persatu provokator dikandangkan dan shock therapy dengan tuduhan makar berjalan. Tuduhan itu bukan tanpa bukti. Aparat memegang banyak bukti rekaman dan aliran dana yang tidak bisa mereka bantah..
Sesudah satu barisan besar pecah, demo selanjutnya 212 meski masih berskala besar sudah mulai aman. Karena aman itulah, Presiden akhirnya masuk ke tengah demonstran dan berkomunikasi disana..
Sekarang tinggal kelompok kecil saja dari aksi massa besar. Dan serangan menuju FPI sebagai salah satu ormas yang paling aktif dalam demo-demo massa.
Bisa dibilang disinilah FPI dipreteli. Serangan dari segala penjuru menghantam Habib Rizieq yang terlihat sebagai panglima utama di lapangan. HR harus di desakralisasi, karena sudah berkembang pemahaman bahwa ia adalah orang suci. Dibangunlah konsep perlawanan rakyat kepada HR, dengan memanfaatkan kesalahan akibat kepongahannya sendiri..
FPI tentu tahu situasi ini. Mereka resah dan mulai panik. Melawan penggembosan ini mereka kemudian melakukan propaganda Revolusi. Sebuah teriakan sia-sia, menurut saya, karena momentumnya sudah lewat. Rakyat sudah kembali bekerja seperti biasa karena sidang Ahok - yang dijadikan pintu masuk bagi mereka - sudah terlaksana dengan informasi yang terbuka.
Kita bisa melihat inilah waktu dimana FPI menjadi kerdil. Tidak perlu memukul mereka, cukup dengan menaruh mereka pada sudut sempit, dan proses pembusukan akan berjalan sendiri...
Demo hari ini yang mengajak2 "umat Islam" untuk membebaskan HR, tidak mendapat sambutan berarti. Karena rakyat tahu bahwa ini hanya untuk kepentingan FPI sendiri, bukan agama. Lagian bukti video bahwa HR bersalah tersebar luas..
Sambil seruput kopi, boleh dong saya kasih analisa tambahan..
Dengan semakin mengecilnya gerakan massa dengan tema "Penista agama", maka proses hakim menyatakan Ahok tidak bersalah akan lebih mudah dan tidak terganggu demo besar seperti sebelumnya..
Untuk FPI boleh saya titip sedikit pesan ? Sini saya bisikkan.. "Pakde kok dilawan..."
Seruput dulu ah...

PANTATMU, HARIMAUMU! Sindiran untuk Habib Riziq Shihab



Ahok pidato di P. Seribu dalam rangka kerjasama pengelolaan keramba ikan antara Pemda DKI dan warga. Dalam pidatonya ada kata-katanya yang disalahartikan. Pidato itu dilepaskan dari konteksnya, lalu dibubuhi teks yang akibatnya membakar emosi orang. pelakunya adalah Buni Yani.
Orang mendengar desas-desus omogan itu, lalu mereka juga menyimpulkan sendiri. Seperti kata sebuah survei, 88% yang menuduh Ahok menista agama tidak pernah menyaksikan video itu secara utuh. Tapi suasana sudah dikipas-kipas agar memanas. Maklum, isu ini bercampur dengan aroma persaingan menjelang Pilkada.
Sebelum polisi memeriksa kasusnya, Ahok mendatangi Polda Metro. Dia datang dengan kepala tegak. Ini sebagai salah satu ikhtiarnya untuk meredakan kesalahpahaman. Kedatangannya juga untuk menjaga publik dari perpecahan yang tidak perlu. Dia berkali-kali meminta maaf secara terbuka. Tapi su ini terus dijadikan semacam senjata untuk meringkus Ahok. Desakan disuarakan agar Ahok diproses secara hukum.
Ketika ditetapkan sebagai tersangka, Ahok menerima penetapan itu lalu menjalani konsekuensinya. "Jika demi kebaikan bangsa ini saya harus masuk penjara, saya siap," begitu katanya. Ahok adalah lelaki. Lelaki yang berani mengambil tanggungjawab. Dia hadir di persidangan sebagai warga negara yang menghormati hukum .
Suasana sebaliknya kita saksikan. Rizieq Shihab adalah seorang pembicara keagamaan. Dalam berbagai ceramah, kita gampang menemukan kata-kata 'ajaib' disemburkan olehnya. Presiden Jokowi, misalnya, berkali-kali disebut guobblokkk! Atau untuk Ahok, dia mencela dengan istilah 'kutil babi'.
Pancasila bentukan Soekarno juga dikatakan ada di --maaf-- pantat!. Bukan itu saja, dalam ceramahnya dia juga terang-terangan menghina keyakinan agama lain. Sebuah ungkapan yang Al Quran saja melarang untuk menistakan sesembahan orang lain.
Tidak usah jauh-jauh menilai ucapan Rizieq ini. Jika kamu punya anak, lalu dia berteriak padamu, "Ayah, peraturan di rumah ini pantasnya cuma ada di pantat!", lalu apa reaksi kamu? Mungkin kamu akan menjewernya. Atau memarahinya seraya menasehati. Sebab dengan alasan apapun, itu adalah kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan seorang anak. Lantas bagaimana jika kata-kata senada keluar dari mulut tokoh agama?
Karena kata-kata itulah Rizieq diperiksa polisi, sebab ada orang lain yang tersinggung dengan ucapan tersebut lalu mengadukannya. Juga karena kata-kata lainnya. Setidaknya Rizieq kini menghadapi berbagai tuntutan yang semuanya bersumber dari omogannya di depan publik.
Apakah Rizieq memilih tampil gagah di hadapan polisi untuk mempertanggungjawabkan ucapannya sebagaimana layaknya Ahok? Tidak juga. Berkali-kali dia mangkir dari panggilan penyidik. Setelah diancam akan dijemput paksa polisi, dia baru datang. Tapi, dia perlu segerombolan besar pengikutnya untuk mendampingi.
Bukan hanya segerombolan anggota FPI yang teriak-teriak paling nyaring. Tetapi nama umat Islam juga disangkut pautkan. Seolah-olah seluruh umat ini dianggap sama standar etikanya, mereka akan membela mati-matian seseorang yang beteriak : 'pantat!' di depan publik.
Jika Anda memarahi anak Anda yang bicara 'pantat' kepada orang lain, itu tandanya Anda masih punya etika standar. Tapi kalau anak Anda bicara 'pantat' di depan gurunya, lantas sekolah menjatuhkan hukuman kepadanya karena tidak sopan, apakah Anda sebagai orang tua akan membelanya lalu mengancam sekolah? Jika itu yang Anda lakukan, seluruh sekolah tahu, orang tua seperti apakah Anda.
Jadi bagi pengikut Rizieq silakan saja berteriak membela junjungannya dari ancaman hukuman. Itu urusan FPI dan rekan-rekannya. Tapi FPI tidak sama dengan umat Islam. Sebab, saya yakin, masih banyak umat Islam yang gak enak kupingnya mendengar kata 'pantat' diucapkan oleh seseorang di depan publik.
Masih banyak umat Islam yang punya standar etika cukup. Mereka juga protes jika katakata penghinaan seperti 'pantat' disemburkan dalam sebuah pengajian.
Jadi sekarang urus saja pantat masing-masing. Bagi kita cukup peribahasa lama sebagai pegangan : pantatmu, harimaumu!
Grrhhhh.... duutttt...

SERANGAN TELAK ANAS URBANINGRUM KE SBY



Berurusan dengan SBY adalah luka lama yang sulit dilupakan bagi Anas Urbaningrum. Karirnya yang begitu melesat cepat harus tersandung oleh sebuah kepentingan. Ini seperti Pesawat Sukhoi Rusia, yang melaju cepat, membuat hati orang berdebar-debar merasakan kecepatannya, tapi akhirnya harus jatuh di Gunung Salak.

Setelah menjadi orang nomor satu di Demokrat, sebuah hantaman keras menyerangnya. Memaksanya untuk mundur teratur dari dunia politik. Tapi, Anas tak gentar.  Dari pada mundur lebih baik ia keluar dengan terhormat. Sambil membawa sejumlah luka yang hingga kini masih terasa perih. Bagaimana tidak? Sudah jatuh ketiban tangga pula. Lalu disambit secara berjamaah._

Upaya balas dendam Anas tak pernah membuahkan hasil. Ia sempat berjanji akan mengawal Ibas sampai ke KPK, tapi hingga kini, kekuatan Cikeas tak mampu membuat KPK menyentuh Ibas. Anas tahu. Lawannya bukan orang sembarangan. Gurita Cikeas telah terbentuk selama sepuluh tahun terakhir. Janjinya, hanyalah janji. Komitmennya takkan pernah sanggup melawan sebuah tirani yang telah menggurita.

Tapi. Dendam tetaplah dendam. Luka telah tersayat. Perih terus saja menyengat. Mungkin, Anas tidak akan tenang sebelum bisa menyeret orang-orang Cikeas ke KPK, bahkan jika ajal telah menjemputnya.

Kini, yang ia bisa lakukan hanyalah menunggu momen. Sambil terus merespon setiap gerak-gerak sang mantan. Sedikit saja blunder, Anas akan mengeluarkan serangan mematikan._
Cuitan SBY kemarin, ternyata memicu Anas Urbaningrum untuk melakukan sedikit manuver. Menyerang SBY secara santun tanpa “no mention”, seperti halnya gaya SBY yang masih terserang “post power syndrome”.
Ada tujuh cuitan Anas yang sudah dipastikan tertuju kepada SBY.
*Pertama,* Ya Allah, bimbing para pemimpin kami untuk “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” (Ing ngarso sung tulodho, berarti menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang di sekitarnya. Ing Madyo mangun karso, berarti seseorang di tengah kesibukan harus juga mampu membangkitkan semangat. Tut wuri handayani, berarti seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang)
*Kedua*, Ya Allah, jangan sampai terjadi “mestine dadi tuntunan, malah dadi tontonan” (Pemimpin harusnya menjadi tuntunan, bukan tontonan)
*Ketiga,* Ya Allah, jauhkan kami dari pekerti  “ono ngarep ngewuh-ewuhi, ono mburi ngegol-ngegoli” (di depan menggangu, di belakang menjadi beban)
*Keempat*, Ya Allah, ingatkan kami bahwa “ajining diri ono ing lathi”, “ajining diri ono ing cuitan” (harga diri ada pada ucapan, harga diri ada pada cuitan)
*Kelima,* Ya Allah, jauhkan para pemimpin kami dari JARKONI,  “biso ngajar ora biso nglakoni” (bisa mengajari tapi tak bisa melaksanakan)
*Keenam,* Ya Allah, jangan lupakan kami dari petuah leluhur “ojo metani alaning liyan” (jangan mencari-cari keburukan orang lain)
*Ketujuh,* Ya Allah, jangan ubah “lengser keprabon madeg pandhito” menjadi “lengser keprabon madeg CAKIL” (seharusnya, setelah selesai masa jabatan menjadi orang baik, bukan setelah selesai masa jabatan menjadi CAKIL. Cakil merupakan lambang keburukan. Dalam pewayangan Cakil selalu kalah)

Tujuh cuitan Anas ini seperti _tujuh jurus pukulan naga yang sedang menyerang satu cuitan SBY. Sebenarnya, bukan cuma cuitannya yang kemarin yang Anas serang. Tapi, berbagai sikap dan ucapan SBY yang sepertinya menunjukkan gejala “post power syndrome”.
Anas seolah-olah menasehati, kalau jadi pemimpin ya seperti ini. Padahal, di balik nasehatnya itu, ia hendak menghajar sang mantan pemimpin. Dan sebagai pakar ra(i)sa, saya merasakan bahwa Anas hendak menunjukkan keberpihakannya pada Jokowi. Sebab,  kriteria yang Anas sampaikan semuanya ada pada diri Jokowi. Dengan perbandingan itu, Anas secara tidak langsung telah menghajar SBY dengan tujuh jurus mematikan itu.

Anas menulis, pemimpin itu harusnya jadi teladan yang mampu menyemangati dan mendorong. Bukan  malah menjelek-jelekan dan mengada-ada kejelekan. Pemimpin juga harus menjadi tuntunan, bukan tontonan. Bagaimana kita lihat sikap SBY, bagi kebanyakan orang hanya menjadi tontonan akhir pekan dalam sebuah acara drama _“mantan yang baperan”.
Anas juga memperingati, harga diri itu ada pada ucapan, harga diri itu ada pada cuitan. Kebanyakan netizen yang merespon cuitan SBY rata-rata menanggapinya secara negatif. Malah, banyak yang menyerang balik cuitan SBY ini.

Tentu, netizen bukan karena sentimen semata menyerang balik SBY. Tapi, berdasarkan peninggalannya selama sepuluh tahun menjadi Presiden. _Banyak proyek-proyek mangkrak. Juga, orang-orang di lingkungan partainya, banyak yang terlibat kasus korupsi.
Anas mengatakan, bisa mengajari tapi tidak bisa melaksanakan. SBY mengatakan dalam cuitannya “Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa”. Mengatakan seperti itu tapi menjadikan Setiyardi, pemred Obor Rakyat, sebagai timses AHY, itu seperti menjilat ludah sendiri. SBY mendorong agar proses hukum Ahok agar segera dilakukan, tapi giliran Sylviana Murni terlibat dalam kasus korupsi, malah mencuit yang tidak-tidak.

Dan. Jurus pamungkas Anas ada pada cuitannya yang ketujuh. Setelah selesai masa jabatan harusnya menjadi orang baik bukan menjadi CAKIL. Ini sindiran keras yang mampu membuat SBY tidak bisa tidur semalaman. SBY disamakan dengan cakil, tokoh jahat dalam pewayangan juga sebagai simbol keburukan.

Terakhir. Jokowi ini termasuk Presiden yang istimewa. Tanpa harus melayani sang mantan bertarung di arena, musuh-musuh sang mantan sudah menghajarnya duluan. Jokowi hanya memberikan kode-kode perlawanan dengan berbagai simbol-simbol politik yang selalunya mampu membuat sang mantan baper. Apalagi hingga kini, Jokowi belum mengundang sang mantan ke Istana, untuk makan siang. Apakah ini sebuah simbol juga untuk merespon sang mantan yang tengah baperan?
Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah.
-MUHAMMAD NURDIN-

Sabtu, 17 Desember 2016

Ahok Tangisan Buaya Penista Agama


JAKARTA -- Mulyadi (43 tahun) tidak akan pernah bisa melupakan kejadian yang menimpanya, September lalu. Pada waktu itu, rumah yang telah menjadi tempat bernaung bagi keluarganya selama berpuluh-puluh tahun, hancur dihantam alat berat yang dikerahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Selain hunian milik Mulyadi, ada puluhan rumah lainnya di RT 06 RW 12 Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, yang juga ikut dibongkar oleh aparat ketika itu. Para warga pun hanya bisa pasrah menyaksikan hunian mereka diratakan dengan tanah.

Tangisan kaum perempuan dan anak-anak balita seakan tak mampu menghentikan ekskavator yang terus menggaruk habis rumah-rumah mereka tanpa ampun. "Ahok mungkin tidak pernah peduli dengan tangisan warga Bukit Duri yang dia gusur itu," ucap Mulyadi kepada Republika.co.id, Rabu (14/12).

Menurut laki-laki itu, Ahok atau Basuki T Purnama sudah memberikan mimpi buruk bagi puluhan keluarga yang dulu mendiami RT 06 RW 12 Bukit Duri. Mantan bupati Belitung Timur itu tidak hanya mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dalam memperlakukan rakyat kecil di Ibu Kota, tetapi juga meremehkan proses hukum yang sedang berjalan.

Sebagai buktinya, eksekusi terhadap permukiman di Bukit Duri, beberapa bulan lalu, dilakukan Ahok pada saat gugatan kelompok (class action) warga atas kebijakan penggusuran tersebut sedang ditangani oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

"Kemarin, ketika Ahok hadir sebagai terdakwa dalam sidang kasus penodaan agama di PN Jakarta Utara, dia menangis. Saya pikir tangisannya itu hanya air mata buaya. Dia tidak sadar, betapa banyak air mata warga yang tumpah akibat perlakuannya yang sewenang-wenang terhadap rakyat miskin di kota ini," tutur Mulyadi.

Selepas penggusuran Bukit Duri, pria itu mengaku kehidupan keluarganya semakin sulit. Kini, Mulyadi beserta istri dan tiga orang anaknya terpaksa mengontrak kamar berukuran 3x5 meter di sebuah rumah yang berada di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Selatan.

Selain dia, ada 19 keluarga eks Bukit Duri lainnya yang juga menyewa kamar di rumah yang sama. Sebagian dari mereka adalah perempuan lanjut usia, anak-anak, dan kaum dhuafa. "Rumah yang kami sewa ini punya 20 kamar. Tapi yang dihuni cuma 19 kamar, yang satunya lagi kami jadikn gudang," ucap Mulyadi.

Jadi Tangisan Ahok, hanyalah buaya guna menutupi perbuatannya.

Ahok bawa-bawa Video Gus Dur, Ahok Ditolak Pengadilan



Jakarta Kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok hingga kini memang masih menjadi topik yang paling ramai dibahas masyarakat Tanah Air.

Selain telah ditetapkan sebagai tersangka pada 15 November 2016 lalu, Ahok pun telah menjalani sidang perdananya pada Selasa, 13 Desember 2016 di bekas gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kasus dugaan penistaan agama tersebut juga memunculkan banyak tanggapan dari berbagai tokoh penting, salah satunya sebuah video yang baru-baru ini beredar di internet yang memperlihatkan kebersamaan Ahok dengan almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ketika kampanye pemilihan gubernur Bangka Belitung 2007.

Dalam kesempatan itu, Gus Dur yang juga didampingi Yenny Wahid menyatakan bahwa politik sebenarnya tidak ada hubungannya dengan soal agama.

Tonton Videonya


Gawat Ahok Akan Divonis Setelah Pencoblosan Pilgub DKI



Depok - Proses persidangan calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama masih panjang. Ahok kemungkinan baru divonis majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara setelah pencoblosan Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta pada 15 Februari 2017.

Hal tersebut disampaikan kuasa hukum Ahok, Sirra Prayuna kepada SP, Jumat (16/12).

Menurutnya, jika persidangan dilakukan satu kali setiap minggu, maka hingga 15 Februari 2017, persidangan belum rampung. Pada 20 Desember akan digelar sidang dengan agenda tanggapan jaksa atas nota keberatan yang dibacakan Ahok dan penasihat hukum pada sidang pertama pada 13 Desember lalu.

Sedangkan pada 27 Desember, jika belum memasuki massa libur, agenda persidangan adalah pembacaan putusan sela. Namun, jika sudah memasuki masa libur, pembacaan putusan sela akan mundur hingga awal Januari 2017.

"Bulan Januari itu kalau sidangnya seminggu sekali berarti dalam satu bulan ada empat kali persidangan. Kalau saksi-saksi yang dihadirkan banyak tentunya akan semakin panjang lagi waktunya," ujar Sirra.

Demikian pula pada Februari akan digelar empat kali sidang. "Saat tanggal pencoblosan 15 Februari, sidang masih terus berlanjut," katanya.

Sumber: Berita Satu