Tampilkan postingan dengan label kasus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

ini dia MENGAPA ANIES BASWEDAN DIPECAT ???


Resufle menteri era Jokowi adalah hal yang wajar. Tapi ketika Anies dicopot, itu sangat mengagetkan publik. Termasuk saya tidak percaya tindakan Jokowi kali ini. Saya sempat berpikir Jokowi kali ini blunder.
Tapi kontroversi mengapa Jokowi memecat Anies Baswedan yang baik dan pintar dari Menteri Pendidikan, akhirnya mulai terjawab.

• SRI MULYANI: "ANGGARAN TUNJANGAN PROFESI GURU KELEBIHAN Rp 23,3 TRILIUN"
http://bisniskeuangan.kompas.com/…/sri.mulyani.anggaran.tun…
Sri Mulyani lalu memangkas anggaran tunjangan profesi guru yang fiktif ini. Mencengangkan... Bagaimana mungkin Menteri Pendidikan tidak tau ??? Kemana inspektoratnya & BPK ???Mengapa menkeu yang mengungkap ini ???
Saya yakin Anies bersih, tidak terlibat dalam rencana pembobolan uang negara super jumbo ini. Mungkin juga ini bukan pertama terjadi dan digagalkan. Tapi disinilah nampak letak ketidakmampuan Anies membenahi birokrasi di kementiannya yang KORUP.
• JOKOWI: "DARI 18 JUTA RUANG KELAS SEKOLAH HANYA 466 RIBU YANG KONDISINYA BAIK"
http://m.detik.com/…/jokowi-dari-18-juta-ruang-kelas-sekola…
CATAT ... Tidak sampai 1/2 juta dari 18juta Kelas Sekolah di Indonesia yang Kondisinya Baik !!!
Bukankah anggaran pembangunan fisik sekolah adalah kewenangan pemda kabupaten/kota untuk SD dan SMP, pemprov untuk SMA dan SMK. Ya benar, tapi selama berpikir parsial seperti ini, lalu apa fungsi kementerian ???
Bagaimana kementerian pendidikan mampu menjalankan programnya jika pemerintah daerah suka-suka ??? Jika hanya memberikan DAK Dana Alokasi Khusus pada daerah tanpa syarat, arah dan kontrol, maka anggaran dari pusat akan dihabiskan daerah tanpa hasil maksimal.
Banyak daerah yang asal menghabiskan anggaran dari pusat. Membangun sarana fisik di perkotaan saja, sementara sekolah di pelosok sampai ambruk tidak dapat perhatian. Jika pembangunan fisik sekolah di pelosok, banyak yang asal jadi, istilahnya "bangunan 3 bulan rusak". Bahkan kadang ada pembangunan sekolah fiktif.
Menteri yang hebat punya strategi yang mampu menggunakan kewenangannya yang "memaksakan" dan "harus" koordinasi program terobosan yang baik dari kementerian ke daerah.
• "BANYAK ANAK TIDAK SEKOLAH MENDAPAT KIP Kartu Indonesia Pintar"
http://nasional.kompas.com/…/mendikbud.banyak.anak.tak.seko…
Dimana keadilan dan apa output pendidikan kita jika anak tidak sekolah banyak dapat KIP tapi anak sekolah justru banyak tidak memperoleh haknya. Mental apa yang bisa direvolusi jika dunia pendidikan saja berkeliaran maling-maling ???
Sulit akal sehat saya memikirkan bagaimana seorang menteri yang pintar era Jokowi selama 2 tahun bisa KEBOBOLAN oleh jaringan satuan kerja dibawah kewenangannya yang korup...???
Tidak ada perubahan berarti di bidang pendidikan selama Anies menjadi menteri dengan pemerintahan lama. Anggaran yang besar tidak berasa beda 'gregetnya'. Sangat tidak memenuhi standar tinggi Jokowi.
Dalam hal anggaran bagi Presiden Jokowi adalah hal sensitif. Anggaran harus ada pertanggungjawaban dan hasil yang terukur. Bukannya memelihara birokrasi yang korup.
Siapapun yang jadi menteri gelombang pertama Presiden Jokowi dalam pikirannya harus berazas "praduga korupsi". Birokrasi warisan SBY harus diduga korup sampai mereka bisa buktikan tidak korup.
Apapun program warisan maupun program baru harus diawasi ketat. Inspektorat harus dari awal disterilkan. Harus ada revolusi birokrasi secara sistemik. Tidak cukup hanya pintar berwacana normatif.
Coba bandingkan betapa luar biasanya program dan kinerja Susi Pudjiastuti yang cuma berijazah SMP atau Khofifah Indar Parawansa. Atau Kementerian PU dan Perhubungan yang membangun besar-besaran dengan kualitas kerja lebih baik dibanding era pemerintahan SBY.
Anies menjadi Menteri Pendidikan, kebanyakan wacana tapi masih belum ada gebrakan pembersihan internal birokrasi yang berarti. Pejabat di kementerian ini menggunakan anggaran yang tidak berorientasi hasil tapi hanya ngutak-atik habiskan anggaran.
Dalam hal memimpin birokrasi Anies sebagai menteri pendidikan GAGAL menggebrak kebobrokan warisan yang masih korup dan program asal ngabisin anggaran tanpa orientasi hasil. Jumlah kelas yang layak sangat rendah dan tunjangan guru fiktif ini adalah parameter kegagalan Anies dalam membenahi birokrasi.
"ANIES BASWEDAN ORANG BAIK, BERSIH & PINTAR, TAPI TIDAK MAMPU MEMBERSIHKAN BIROKRASI WARISAN PEMERINTAHAN LAMA YANG BOBROK. TIDAK MAMPU MEMENUHI STANDAR JOKOWI YANG TOTAL FIGHTER"
Anies akan sangat brilian dalam dunia akademik, tapi akan kedodoran jika harus memimpin birokrasi yang masih bobrok. Apalagi di DKI Jakarta, sangat berat bagi Anies membenahi birokrasi maupun bertarung dengan DPRD seperti Ahok.
Sangat mengerikan jika DKI dipimpin gubernur yang tidak setangguh Ahok, birokrasi kembali korup, DPRD begal anggaran kembali merajalela...
Bahkan Anies yang cendikiawan santun ini di tim pemenangannya saja tidak mampu mengendalikan tukang fitnah yang merupakan lawannya saat Pilpres 2014 lalu.
Mari Berpikir Cerdas dengan Akal Sehat.

GILIRAN FPI DI PRETELI


Situasai saat demo 411 lalu memang situasi yang sangat berbahaya..
Bukan jumlah massanya yang mengkhawatirkan, tetapi banyak elemen yang bermain memanfaatkan keadaan dan berkepentingan untuk membuat demo itu chaos. Dan kita bisa merasakan betapa tegangnya situasi pada waktu itu..
Alhamdulillah, kinerja aparat keamanan sangat teruji disini. Kita patut bangga sudah melewati situasi genting dengan selamat. Meski secara waktu, energi dan materi benar2 terkuras. Ratusan miliar rupiah terbuang sia-sia, baik dari sisi pendana demo maupun pemerintah yang ingin supaya situasi kembali aman.
Dan dari pidato Jokowi menanggapi demo 411, ia tampak sangat geram..
Sesudah demo 411, aparat bergerak cepat. Gerakan pecah ombak dimulai. Satu persatu provokator dikandangkan dan shock therapy dengan tuduhan makar berjalan. Tuduhan itu bukan tanpa bukti. Aparat memegang banyak bukti rekaman dan aliran dana yang tidak bisa mereka bantah..
Sesudah satu barisan besar pecah, demo selanjutnya 212 meski masih berskala besar sudah mulai aman. Karena aman itulah, Presiden akhirnya masuk ke tengah demonstran dan berkomunikasi disana..
Sekarang tinggal kelompok kecil saja dari aksi massa besar. Dan serangan menuju FPI sebagai salah satu ormas yang paling aktif dalam demo-demo massa.
Bisa dibilang disinilah FPI dipreteli. Serangan dari segala penjuru menghantam Habib Rizieq yang terlihat sebagai panglima utama di lapangan. HR harus di desakralisasi, karena sudah berkembang pemahaman bahwa ia adalah orang suci. Dibangunlah konsep perlawanan rakyat kepada HR, dengan memanfaatkan kesalahan akibat kepongahannya sendiri..
FPI tentu tahu situasi ini. Mereka resah dan mulai panik. Melawan penggembosan ini mereka kemudian melakukan propaganda Revolusi. Sebuah teriakan sia-sia, menurut saya, karena momentumnya sudah lewat. Rakyat sudah kembali bekerja seperti biasa karena sidang Ahok - yang dijadikan pintu masuk bagi mereka - sudah terlaksana dengan informasi yang terbuka.
Kita bisa melihat inilah waktu dimana FPI menjadi kerdil. Tidak perlu memukul mereka, cukup dengan menaruh mereka pada sudut sempit, dan proses pembusukan akan berjalan sendiri...
Demo hari ini yang mengajak2 "umat Islam" untuk membebaskan HR, tidak mendapat sambutan berarti. Karena rakyat tahu bahwa ini hanya untuk kepentingan FPI sendiri, bukan agama. Lagian bukti video bahwa HR bersalah tersebar luas..
Sambil seruput kopi, boleh dong saya kasih analisa tambahan..
Dengan semakin mengecilnya gerakan massa dengan tema "Penista agama", maka proses hakim menyatakan Ahok tidak bersalah akan lebih mudah dan tidak terganggu demo besar seperti sebelumnya..
Untuk FPI boleh saya titip sedikit pesan ? Sini saya bisikkan.. "Pakde kok dilawan..."
Seruput dulu ah...

PANTATMU, HARIMAUMU! Sindiran untuk Habib Riziq Shihab



Ahok pidato di P. Seribu dalam rangka kerjasama pengelolaan keramba ikan antara Pemda DKI dan warga. Dalam pidatonya ada kata-katanya yang disalahartikan. Pidato itu dilepaskan dari konteksnya, lalu dibubuhi teks yang akibatnya membakar emosi orang. pelakunya adalah Buni Yani.
Orang mendengar desas-desus omogan itu, lalu mereka juga menyimpulkan sendiri. Seperti kata sebuah survei, 88% yang menuduh Ahok menista agama tidak pernah menyaksikan video itu secara utuh. Tapi suasana sudah dikipas-kipas agar memanas. Maklum, isu ini bercampur dengan aroma persaingan menjelang Pilkada.
Sebelum polisi memeriksa kasusnya, Ahok mendatangi Polda Metro. Dia datang dengan kepala tegak. Ini sebagai salah satu ikhtiarnya untuk meredakan kesalahpahaman. Kedatangannya juga untuk menjaga publik dari perpecahan yang tidak perlu. Dia berkali-kali meminta maaf secara terbuka. Tapi su ini terus dijadikan semacam senjata untuk meringkus Ahok. Desakan disuarakan agar Ahok diproses secara hukum.
Ketika ditetapkan sebagai tersangka, Ahok menerima penetapan itu lalu menjalani konsekuensinya. "Jika demi kebaikan bangsa ini saya harus masuk penjara, saya siap," begitu katanya. Ahok adalah lelaki. Lelaki yang berani mengambil tanggungjawab. Dia hadir di persidangan sebagai warga negara yang menghormati hukum .
Suasana sebaliknya kita saksikan. Rizieq Shihab adalah seorang pembicara keagamaan. Dalam berbagai ceramah, kita gampang menemukan kata-kata 'ajaib' disemburkan olehnya. Presiden Jokowi, misalnya, berkali-kali disebut guobblokkk! Atau untuk Ahok, dia mencela dengan istilah 'kutil babi'.
Pancasila bentukan Soekarno juga dikatakan ada di --maaf-- pantat!. Bukan itu saja, dalam ceramahnya dia juga terang-terangan menghina keyakinan agama lain. Sebuah ungkapan yang Al Quran saja melarang untuk menistakan sesembahan orang lain.
Tidak usah jauh-jauh menilai ucapan Rizieq ini. Jika kamu punya anak, lalu dia berteriak padamu, "Ayah, peraturan di rumah ini pantasnya cuma ada di pantat!", lalu apa reaksi kamu? Mungkin kamu akan menjewernya. Atau memarahinya seraya menasehati. Sebab dengan alasan apapun, itu adalah kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan seorang anak. Lantas bagaimana jika kata-kata senada keluar dari mulut tokoh agama?
Karena kata-kata itulah Rizieq diperiksa polisi, sebab ada orang lain yang tersinggung dengan ucapan tersebut lalu mengadukannya. Juga karena kata-kata lainnya. Setidaknya Rizieq kini menghadapi berbagai tuntutan yang semuanya bersumber dari omogannya di depan publik.
Apakah Rizieq memilih tampil gagah di hadapan polisi untuk mempertanggungjawabkan ucapannya sebagaimana layaknya Ahok? Tidak juga. Berkali-kali dia mangkir dari panggilan penyidik. Setelah diancam akan dijemput paksa polisi, dia baru datang. Tapi, dia perlu segerombolan besar pengikutnya untuk mendampingi.
Bukan hanya segerombolan anggota FPI yang teriak-teriak paling nyaring. Tetapi nama umat Islam juga disangkut pautkan. Seolah-olah seluruh umat ini dianggap sama standar etikanya, mereka akan membela mati-matian seseorang yang beteriak : 'pantat!' di depan publik.
Jika Anda memarahi anak Anda yang bicara 'pantat' kepada orang lain, itu tandanya Anda masih punya etika standar. Tapi kalau anak Anda bicara 'pantat' di depan gurunya, lantas sekolah menjatuhkan hukuman kepadanya karena tidak sopan, apakah Anda sebagai orang tua akan membelanya lalu mengancam sekolah? Jika itu yang Anda lakukan, seluruh sekolah tahu, orang tua seperti apakah Anda.
Jadi bagi pengikut Rizieq silakan saja berteriak membela junjungannya dari ancaman hukuman. Itu urusan FPI dan rekan-rekannya. Tapi FPI tidak sama dengan umat Islam. Sebab, saya yakin, masih banyak umat Islam yang gak enak kupingnya mendengar kata 'pantat' diucapkan oleh seseorang di depan publik.
Masih banyak umat Islam yang punya standar etika cukup. Mereka juga protes jika katakata penghinaan seperti 'pantat' disemburkan dalam sebuah pengajian.
Jadi sekarang urus saja pantat masing-masing. Bagi kita cukup peribahasa lama sebagai pegangan : pantatmu, harimaumu!
Grrhhhh.... duutttt...

WUIH, TERNYATA ASROI ADALAH SAKSI AHOK YANG MEWAKILI UMAT ISLAM SEDUNIA


Tidak bisa tertahan lagi memang kegilaan yang hadir dalam persidangan Ahok.
Kegilaan yang dimulai dari Pendapat Keagamaan MUI yang tanpa tabayyun dan klarifikasi ke Ahok serta tanpa ada peringatan terlebih dahulu kepada Ahok.
Aksi Bela Islam I, II, dan III atas dasar pendapat keagamaan tersebut.
Dilanjutkan dengan ditersangkakannya Ahok oleh Polisi karena tekanan massa dan atas dasar Pendapat Keagamaan tersebut.
Jaksa dengan kilat siapkan berkas dan akhirnya lahirlah sidang penuh kegilaan.
Sidang yang didasari dengan kegilaan atau ketidakwarasaan ini akhirnya melahirkan saksi-saksi pelapor penuh kegilaan.
Semua yang hadir dan yang membaca pemberitaan sidang Ahok (yang waras) geleng-geleng kepala dengan pernyataan saksi pelapor yang aneh-aneh.
Mulai dari tanggal yang salah, BAP yang salah ketik, bahkan fitnah yang bertebaran dalam persidangan.
Sumpah dengan Kitab Suci tidak berdampak karena fitnah tetap saja tidak bisa ditahan.
Kegilaan baru muncul pada sidang ketujuh Ahok .
Saksi bernama Muhammad Asroi Saputra (36), asal Padang Sidempuan, Sumatera Utara, datang dan menyatakan sesuatu yang tidak masuk akal .
Asroi yang melaporkan kasus ini ke Polres Padang Sidempuan pada 21 Oktober 2016, ternyata tidak hanya mewakili pribadi dan juga teman-temannya, melainkan juga umat Islam sedunia .
Hal ini terungkap dari berita acara pemeriksaan (BAP) yang dibacakan hakim, Asroi menyebutkan bahwa yang menjadi korban dari ucapan Ahok adalah umat Muslim sedunia .
“ Karena umat Islam bersaudara, Pak. Di mana pun di belahan bumi mana pun, persaudaraan itu ada. Jadi, sama rasa. Pasti sama rasa sakit yang dirasakan ,” kata Asroi kepada hakim .
“ Karena ini berkaitan dengan agama saya. Setiap yang beragama Islam pasti tersinggung ,” ucap pria yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di kantor KUA Padang Sidempuan tersebut .
W O W . . . Wow . . . Luar biasa klaim yang disampaikan oleh Asroi di dalam persidangan .
Persaudaraan Islam dibawa-bawa dan dia seperti punya hak dan kewenangan mewakilinya .
Asroi ketika ditanya ada datanya tidak bisa memberikan keterangan dan hanya menyampaikan bahwa Islam bersaudara .
Pernyataan ini sangat berbahaya dan akan menyakitkan bagi orang-orang Islam lain .
Pernyataan Asroi ini bisa saja menyebabkan perpecahan umat karena menyebut kalimat “Setiap yang beragama Islam pasti tersinggung ”.
Darimana dasarnya ? ? ?
Apakah Asroi punya kemampuan tafsir melebihi ulama-ulama yang menilai tidak ada penistaan Islam dalam kasus ini ? ? ?
Asroi bisa dituntut menghina umat Islam lain yang tidak tersinggung oleh pernyataan Ahok, karena memang Islam tidak dinistakan dalam pernyataan Ahok .
Hal ini dengan lugas disampaikan oleh Pemuka Agama sekaliber Buya Syafii dan Gus Mus .
Apakah Asroi menyebut mereka ini bukan umat Islam ? ? ?
Belum lagi dalam persidangan terungkap bahwa di tempat kejadian pun tidak ada umat Islam yang tersinggung .
Hal ini diungkapkan Lurah Pulau Panggang Yuli Hardi yang mengatakan, tak ada warga Kepulauan Seribu yang protes saat Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 dalam sambutannya .
“ Tidak ada ,” kata Yuli di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (24/1/2017) .
Menurut Yuli, sikap masyarakat Kepulauan Seribu juga baru muncul seusai pernyataan Ahok ramai dipermasalahkan .
“ Macam-macam (sikap masyarakat). Ada yang pro, kontra, dan cuek ,” kata Yuli .
Hal ini membuktikan bahwa kegilaan muncul ketika Pidato Ahok dipermasalahkan dan digiring dalam kegilaan yang sangat masif dan luar biasa .
Seperti yang disampaikan oleh AHY ketika Sylvi terjerat kasus dana hibah, kasus ini seperti dicari-cari sekali sesuatu yang mengada-ada .
Akhirnya yah seperti ini .
Kegilaan tidak terbendung lagi .
Asroi memang hebat !
Kasus Ahok sampai bawa-bawa umat Islam sedunia .
Tanpa survei dan bertanya langsung dengan beraninya mengklaim bahwa setiap umat Islam pasti tersinggung oleh pernyataan Ahok .
Dasar yang tidak benar dan hanyalah sebuah perasaan yang tidak bertanggung jawab .
Seperti yang pernah saya sampaikan, sidang ini hanya akan menampilkan ketidakwarasan dan kegilaan tiada henti. Karena sesuatu yang tidak benar dan penuh kebohongan, hanya akan melahirkan ketidakbenaran dan kebohongan baru untuk menutupinya .
Finalnya, Para penggerak kebohongan itu akan dihantam oleh kebohongan mereka sendiri .
Nikmatilah setiap kegilaan dan jadikanlah ini pelajaran bagi kita semua .
Hati-hati dalam memelihara ketidakwarasan dan kebohongan .
Ketika hal itu semakin besar, kita tidak mampu lagi membendungnya .
Seperti saat ini, kasus penistaan agama malah jadi ajang fitnah dan berbohong .
Agama atau kegilaankah yang sedang dibela saat ini ? ? ?
Salam Gila .
-Palti Hutabarat-